Selasa, 22 Desember 2015

Hot Potato (4)

https://googledrive.com/host/0B1_67Olj_qk_NFJ4bHN4SzVvTzg
Hot Potato (3) 

https://googledrive.com/host/0B1_67Olj_qk_Z2dXelNudXVsMGM
Hot Potato (2) https://googledrive.com/host/0B1_67Olj_qk_ZVlRdUZ3YlNYNU0
Hotpot https://googledrive.com/host/0B1_67Olj_qk_VmJYa1N0NzN1U1k
Kentang Panas https://googledrive.com/host/0B1_67Olj_qk_a1FqOW96d2ZnbEE

Kamis, 03 Desember 2015

Angkringan Pak Min Bantar Banguncipto


Ehmm..Hello, I will share about favorite food from Yogyakarta.  Maybe, most of people know what is Angkringan. Angkringan (derived from the Javanese 'angkring' which means the tools and places selling food around the pikulannya curved upward) is a thrust gerobag that sell a variety of foods and beverages commonly found on each edge of the road in Central Java and Yogyakarta. Solo known as stall hic ("special dishes a la village") or Wedangan. Gerobag regular angkringan covered with a plastic tarp and can carry about 8 buyer. Operates from the late afternoon, he relied on the traditional lighting is senthir (ind.lentera, very simple lighting without glass semprong compared with outboard or kerosene lamps consisting of a short-sized bottle typically complete with wick and kerosene or oil kelentik as fuel), and also aided by the light of street lamps.Food sold include cat rice, fried intestine satay (chicken), satay quail eggs, chips and others. Dijualpun assortment of beverages such as tea, juice, coffee, tape, ginger and milk. All are sold at a very affordable price.Although the price is cheap, but consumers shop is very varied. Starting from pedicab drivers, builders, office workers, students, artists, even to officials and executives. Inter buyers and sellers are often seen chatting casually in an atmosphere full of family.Angkringan also famous as an egalitarian place due to varied buyers who come without discriminating social strata or SARA. They enjoy free food while chatting late into the night despite not know each other on a variety of things or sometimes discuss serious topics. The price is cheap and relaxing place that makes angkringan very popular in the middle of the city as a haven to repel hungry or just unwind. Familiar situation in angkringan made a name angkringan not only refer into place but to the atmosphere, several events to adopt said angkringan to describe the intimate atmosphere of sharing and bridge differences, as Angkringan JTF held by R & D and also Angkringan Ramadan are often held on college campuses before the iftar.

Angkringan Pak Min is my father owned business. He have this business start when I am still on elementary school till now. He have special menu Sambel Bawang Lombok Ijo, Gorengan Bakar, Bakmi, Gembus Bacem, etc. I am proud of my father, because him business get most benefit every day and also never visit a famous musician of Indonesia Charli Setia Band. And then from the benefit, he can give me anything.. So, please coming guys on Angkringan Pak Min that still on Bantar, Banguncipto, Sentolo, Kolon Progo, Yogyakarta.

Welcome to Banguncipto Village

Today I will publish my pride village. Banguncipto, the village is rich in rice fields and livestock. The atmosphere is still beautiful and the people are very friendly. And most people work as farmers and craftsmen bag. And I know, if  the Banguncipto village called tourist village and  industries.
Mr. Towil, he was a pioneer of the creation of a tourist village. He and his friends invite foreign tourists to enjoy the natural scenery is still beautiful in Banguncipto. So no wonder, if the current in Banguncipto been visited by many foreign tourists.
 
So, I want to invite you to join with me, to looked the beautiful paddy field and craftsmen bag in Banguncipto..

Ngonthel Agawe Tentrem

Siapa Towil?
Ada warga Desa Bantar bernama Mantowil yang gandrung berat dengan sepeda onthel. Ia lantas membuat paket Wisata Towilfiets, layanan wisata sepeda keliling desa. Sekarang, ia punya lebih dari 60 sepeda onthel yang siap mengantarkan wisatawan keliling desa tempat ia tinggal.
Meski merek lawas keluaran tahun 1940-an, sepeda onthel koleksi Towil dalam kondisi siap pakai. Mereknya antara lain Phoenix, Teha, BSA, Triumph, Philip, Simplex ataupun Gazelle.
Sebelum naik sepeda, wisatawan bisa menjajal terlebih dahulu. Jangan khawatir, mekanik sepeda siap menemai kelompok tur. Jika sepeda mendadak mogok karena masalah teknis seperti rantai putus, bisa ganti sepeda baru kok.
Wisata-Towilfiets-Yogyakarta1

Wisata Towilfiets Yogyakarta

Fiets berarti sepeda onthel. Karena itu, wajar jika Towil menamai bisnisnya Wisata Towilfiets. Towil sendiri yang akan menemani para tamu ngonthel jelajah desa. Kalau banyak tamu di musim liburan, biasanya Towil mengajak pemuda desa ikut serta menjadi guide.
Rutenya sih tidak jauh-jauh dari rumah Towil di desa Bantar Bangunsucipto, Kecamatan Sentolo di Kulon Progo, Yogyakarta.
Towil akan mengajak wisatawan melihat Jembatan Bantar yang dirancang oleh presiden pertama Republik Indonesia, Ir Soekarno. Selain itu, wisatawan diajak bertamu ke rumah warga yang menganyam tikar, membuat jamu gendong, juga ke rumah pengrajin tempe.
Wisata-Towilfiets-Yogyakarta-3
Jika berminat, peserta wisata sepeda ini bisa ikut beraktivitas bersama penduduk desa. Misalnya, ikut bercocok tanam atau sekadar menimba air dari sumur. Hm, cocok nih buat para remaja yang belum pernah melihat sumur kerekan sepanjang hidup mereka.Wisatawan juga akan dikenalkan dengan daun jati hingga daun singkong. Eksotis, bagi mata para wisatawan asing.
Kalau mau merasakan pengalaman lebih lama, boleh kok menginap di rumah penduduk Desa Bantar. Tentu saja, lupakan fasilitas hotel ya.
Wisata-Towilfiets-Yogyakarta-5
Di Kabupaten Kulon Progo, Desa Bantar merupakan satu dari 10 desa wisata yang tercatat pemerintah daerah. Biasanya, peminat Wisata Towilfiets dapat menghubungi sejumlah agen wisata di Yogyakarta. Namun, perkembangan social media bisa bantu kamu menghubungi Towil secara langsung, baik melalui Facebook ataupun Twitter.
Kalaupun mau go show wisata sepeda, silahkan saja. Sebab menemukan Towil di desanya, sangat mudah. Pastikan tiba di pagi hari jika ingin mengikuti tur desa dengan hawa segar khas pedesaan.
Jika berniat langsung pergi ke sana, arahkan kendaraan menuju kawasan Kulon Progo, sekitar 20 kilometer ke arah barat Yogyakarta. Setelah melewati jembatan Bantar di Jalan Wates Km15, langsung belok kanan menuju Griya Joglo Towilfiets. Kalau tak yakin, tanya saja. Warga di sana mengenali Towil sebagai “orang yang banyak menerima tamu Londo”.

Kulon Progo

Jembatan Bantar lama

        Jembatan Bantar merupakan salah satu jembatan yang menghubungkan kabupaten bantul dengan kabupaten kulon progo yang berada diatas aliran sungai progo di wilayah kecamatan sedayu dan kecamatan sentolo, sebenarnya  jembatan bantar terdiri dari Bantar I, II, III , tetapi yang masih berfungsi dan biasa di lalui oleh kendaraan hanya ada 2 dan 1 jembatan yang sudah tidak berfungsi lagi yaitu jembatan bantar lama peninggalan penjajahan yang dulu pernah untuk tempat adegan syuting janur kuning.
      


sisi utara jembatan bantar lama
         Jembatan Bantar lama ini memiliki panjang kira - kira 220 meter dengan lebar sekitar 5 meter dan ketinggian dari aliran sungai progo sekitar 25 meter. Jembatan Bantar lama terdiri atas bentangan baja yang bertumpu pada tiang beton bertulang yang ditanam di ruas sungai. Konstruksi baja ini diperkuat dengan bentangan kawat baja pilin dengan diameter sekitar 5 cm. Bentangan kawat baja yang menjadi penyangga beban gantung atau tekan ini berjumlah 9 buah pada masing-masing sisi jembatan. Jadi keseluruhan kawat baja berjumlah 18 buah.

          Beban vertikal jembatan ini disangga oleh konstruksi tiang di kanan kiri sisi jembatan, persilangan baja yang mengalasi jembatan, dan tiang penyangga di bagian bawah jembatan. Untuk menguatkan perekatan antarbaja tersebut digunakan sistem kuncian dengan menggunakan mur baut yang bisa dibuka tutup. Sistem kuncian yang digunakan, sistem kunci mati dengan las maupun klem. Makanya ada banyak tonjolan atau pentolan sekrup dan mur menghiasi permukaan batang-batang baja yang digunakan sebagai konstruksi utama jembatan ini.

          Kedelapan belas kawat baja pilin ini juga berfungsi sebagai penyangga (menggantung) jembatan. Untuk mengunci ujung-ujung kawat baja tersebut digunakan plat baja lengkung setengah lingkaran. Ini sekaligus juga berfungsi sebagai bibir-bibir jembatan, baik di sisi timur maupun sisi barat. Kawat-kawat baja tersebut ditumpangkan dan mengikuti lengkungan bibir jembatan. Dimasukkan ke dalam struktur beton bertulang di bagian tiang jembatan paling pinggir. Biar lebih kuat, digunakan banyak sekrup dan baut yang mematikan posisi kawat baja di atas plat baja lengkung tersebut. Jembatan ini juga dilengkapi dengan sistem roda atau roll pada keempat ujungnya. Fungsinya untuk membuang beban dan getaran yang didapatkan oleh jembatan tersebut.
foto sisi timur jembatan bantar lama

     Menurut sejarah jembatan bantar ini menjadi saksi bisu perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan yang diperoleh dengan berkorban darah, pikiran, materi dan peluh. Perlawanan ini dipicu keputusan Belanda membatalkan gencatan senjata kemudian menyerang lapangan terbang Maguwo dan kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Serangan Belanda sedikit demi sedikit merangsek ke barat mencapai daerah Demak Ijo dan di hari yang sama kota Yogyakarta sudah dapat dikuasai Belanda. Tidak cukup sampai disitu, untuk benar-benar melumpuhkan Yogyakarta, Belanda juga mengerahkan pasukannya menuju tempat-tempat yang dinilai penting di Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Kulonprogo.

         Kulonprogo yang menjadi daerah dengan akses luas ke Jawa Tengah dan Jawa Barat tak luput dari perhatian Belanda. Menurut Belanda jika Jembatan Bantar dapat dikuasai maka lambat laun kota Wates yang saat itu masih menjadi pusat wilayah Kabupaten Adikarta dan Sentolo yang menjadi ibukota Kabupaten Kulonprogo dapat segera dikuasai. 

      Hanya delapan hari sejak Belanda menyerang lapangan udara Maguwo, Belanda telah berhasil merangsek ke wilayah Bantul yang berbatasan dengan Kulonprogo. Tepatnya pada 27 Desember 1948 Jembatan Bantar jatuh ke tangan Belanda. Belanda menggunakan rumah salah satu warga bantar untuk dijadikan markasnya. Meskipun demikian sudah ada tentara Belanda yang berusaha menyeberang jembatan dengan cara merangkak, karena sebelumnya jembatan sudah sedikit dirusak oleh gerilyawan.
 
      Setelah berhasil menguasai Desa Bantar, Belanda membakar sejumlah rumah, membuat lubang persembunyian dan memasang kawat tajam. Dapur umum dan persenjataan begitu lengkap diletakan di sebelah timur sungai dengan anggota sekitar 81 orang. Di barat sungai atau di wilayah Kulonprogo hanya terdapat sekitar 30 tentara yang berjaga.
     
         Begitu mengetahui tentara Belanda sudah memasuki daerah Sedayu maka pihak militer memerintahkan untuk melakukan pembumihangusan kantor dan rumah serta penjebolan jembatan di seputar Wates dan Sentolo. Tujuannya agar Belanda tidak memanfaatkan bangunan dan menyulitkan tentara musuh memasuki kota Wates dan Sentolo.

          Tak lama setelah pengumuman itu akhirnya gedung kabupaten, rumah kerajinan, gedung pegadaian, kantor pos, pasar, stasiun, rumah orang keturunan Tionghoa dan rumah wedana tidak luput dari kobaran api. Mungkin ini sebabnya tidak banyak ditemukan bangunan dengan arsitektur masa lalu atau bahkan bangunan yang berciri khas Belanda di sekitar Wates dan Sentolo.

    
    Sumber:
  •  http://watespahpoh.net/2014/lautan-api-di-wates-dan-sentolo.html
  • Bappeda kulonprogo
  •  http://jogja.kotamini.com/stream/kulon-progo/jembatan-bantar-lama-kenangan-akan-wetan-progo-dan-kulon-progo/
  • Pengamatan sendiri