Jembatan Bantar lama
Jembatan Bantar merupakan salah satu jembatan yang menghubungkan kabupaten bantul dengan kabupaten kulon progo yang berada diatas aliran sungai progo di wilayah kecamatan sedayu dan kecamatan sentolo, sebenarnya jembatan bantar terdiri dari Bantar I, II, III , tetapi yang masih berfungsi dan biasa di lalui oleh kendaraan hanya ada 2 dan 1 jembatan yang sudah tidak berfungsi lagi yaitu jembatan bantar lama peninggalan penjajahan yang dulu pernah untuk tempat adegan syuting janur kuning.
| sisi utara jembatan bantar lama |
Jembatan Bantar lama ini memiliki panjang kira - kira 220 meter dengan lebar sekitar 5 meter dan ketinggian dari aliran sungai progo sekitar 25 meter. Jembatan Bantar lama terdiri atas bentangan baja yang bertumpu pada tiang beton bertulang yang ditanam di ruas sungai. Konstruksi baja ini diperkuat dengan bentangan kawat baja pilin dengan diameter sekitar 5 cm. Bentangan kawat baja yang menjadi penyangga beban gantung atau tekan ini berjumlah 9 buah pada masing-masing sisi jembatan. Jadi keseluruhan kawat baja berjumlah 18 buah.
Beban vertikal jembatan ini disangga oleh konstruksi tiang di kanan kiri sisi jembatan, persilangan baja yang mengalasi jembatan, dan tiang penyangga di bagian bawah jembatan. Untuk menguatkan perekatan antarbaja tersebut digunakan sistem kuncian dengan menggunakan mur baut yang bisa dibuka tutup. Sistem kuncian yang digunakan, sistem kunci mati dengan las maupun klem. Makanya ada banyak tonjolan atau pentolan sekrup dan mur menghiasi permukaan batang-batang baja yang digunakan sebagai konstruksi utama jembatan ini.
Kedelapan belas kawat baja pilin ini juga berfungsi sebagai penyangga (menggantung) jembatan. Untuk mengunci ujung-ujung kawat baja tersebut digunakan plat baja lengkung setengah lingkaran. Ini sekaligus juga berfungsi sebagai bibir-bibir jembatan, baik di sisi timur maupun sisi barat. Kawat-kawat baja tersebut ditumpangkan dan mengikuti lengkungan bibir jembatan. Dimasukkan ke dalam struktur beton bertulang di bagian tiang jembatan paling pinggir. Biar lebih kuat, digunakan banyak sekrup dan baut yang mematikan posisi kawat baja di atas plat baja lengkung tersebut. Jembatan ini juga dilengkapi dengan sistem roda atau roll pada keempat ujungnya. Fungsinya untuk membuang beban dan getaran yang didapatkan oleh jembatan tersebut.
| foto sisi timur jembatan bantar lama |
Menurut sejarah jembatan bantar ini menjadi saksi bisu perlawanan rakyat mempertahankan kemerdekaan yang diperoleh dengan berkorban darah, pikiran, materi dan peluh. Perlawanan ini dipicu keputusan Belanda membatalkan gencatan senjata kemudian menyerang lapangan terbang Maguwo dan kota Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Serangan Belanda sedikit demi sedikit merangsek ke barat mencapai daerah Demak Ijo dan di hari yang sama kota Yogyakarta sudah dapat dikuasai Belanda. Tidak cukup sampai disitu, untuk benar-benar melumpuhkan Yogyakarta, Belanda juga mengerahkan pasukannya menuju tempat-tempat yang dinilai penting di Bantul, Sleman, Gunung Kidul dan Kulonprogo.
Kulonprogo yang menjadi daerah dengan akses luas ke Jawa Tengah dan Jawa Barat tak luput dari perhatian Belanda. Menurut Belanda jika Jembatan Bantar dapat dikuasai maka lambat laun kota Wates yang saat itu masih menjadi pusat wilayah Kabupaten Adikarta dan Sentolo yang menjadi ibukota Kabupaten Kulonprogo dapat segera dikuasai.
Hanya delapan hari sejak Belanda menyerang lapangan udara Maguwo, Belanda telah berhasil merangsek ke wilayah Bantul yang berbatasan dengan Kulonprogo. Tepatnya pada 27 Desember 1948 Jembatan Bantar jatuh ke tangan Belanda. Belanda menggunakan rumah salah satu warga bantar untuk dijadikan markasnya. Meskipun demikian sudah ada tentara Belanda yang berusaha menyeberang jembatan dengan cara merangkak, karena sebelumnya jembatan sudah sedikit dirusak oleh gerilyawan.
Setelah berhasil menguasai Desa Bantar, Belanda membakar sejumlah rumah, membuat lubang persembunyian dan memasang kawat tajam. Dapur umum dan persenjataan begitu lengkap diletakan di sebelah timur sungai dengan anggota sekitar 81 orang. Di barat sungai atau di wilayah Kulonprogo hanya terdapat sekitar 30 tentara yang berjaga.
Begitu mengetahui tentara Belanda sudah memasuki daerah Sedayu maka pihak militer memerintahkan untuk melakukan pembumihangusan kantor dan rumah serta penjebolan jembatan di seputar Wates dan Sentolo. Tujuannya agar Belanda tidak memanfaatkan bangunan dan menyulitkan tentara musuh memasuki kota Wates dan Sentolo.
Tak lama setelah pengumuman itu akhirnya gedung kabupaten, rumah kerajinan, gedung pegadaian, kantor pos, pasar, stasiun, rumah orang keturunan Tionghoa dan rumah wedana tidak luput dari kobaran api. Mungkin ini sebabnya tidak banyak ditemukan bangunan dengan arsitektur masa lalu atau bahkan bangunan yang berciri khas Belanda di sekitar Wates dan Sentolo.
Sumber:
- http://watespahpoh.net/2014/lautan-api-di-wates-dan-sentolo.html
- Bappeda kulonprogo
- http://jogja.kotamini.com/stream/kulon-progo/jembatan-bantar-lama-kenangan-akan-wetan-progo-dan-kulon-progo/
- Pengamatan sendiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar